Minggu, 23 Maret 2014

Masa Kecil Itu ...

Ada yang mengusik pikiranku saat si sulung mengatakan dengan nada penyesalan 

"...masa kecilku gak ada ayah"

Hidup jauh dari keluarga, dari anak-anak membuat ada sisi  yang kosong dalam hidupku. Teringat saat menghabiskan waktu bersama di penghujung pekan. Kangen ketika acara nge-teh di sore hari berantakan gegara diserobot duluan oleh mereka dan atau momen memandikan mereka misalnya. Atau menghabiskan waktu bersama di akhir pekan, dulu waktu di Jogja bangku di titik nol kilometer di ujung Malioboro adalah tempat favorit kami sekeluarga. Dan momen itu masih diingat dengan baik oleh si sulung.



Kenangan masa kecil bersama orang tua memang jadi kenangan yang sulit dilupakan, begitupun dengan sayah. Teringat saat dibelikan sepeda pertama kali. Atau saat diajak jalan-jalan ke kota dengan membonceng sepeda onthel yang tak bosan-bosanya sepanjang jalan Bapak megingatkan untuk terus mengangkat kaki menjauhi jeruji. Dan tak lupa pula mengingatkan agar tak mengantuk sepanjang perjalanan, sebab mengantuk merupakan awal bencana tatkala kaki masuk ke jeruji sepeda. Menikmati pemandangan sepanjang perjalanan dan hembusan angin yang meniup mata, sungguh perjuangan yang sangat sulit untuk menahan kantuk. Biasanya pulangnya tak lupa mampir untuk makan bakso di tempat langganan. Meski sederhana tapi takan terlupakan ....

Kalo sudah pikiran melayang ke masa kecil jadi inget si kembar. Kalo di tilpun yang di tanyakan cuma satu

" Ayah ..pulangnya lagi kapan?" Mak jleb rasanya

Pertemuan yang terbatas dengan si kembar dan baru dua kali bertemu sejak mereka dilahirkan.  Satu hal yang mungkin akan kusesali sepanjang hidup, melewatkan masa kecil bersama mereka.




Mencari nafkah demi keluarga namun tak bisa menikmati arti keluarga itu sendiri, sebuah dilema. Dan mungkin sayah tidak seorang diri...

Sabtu, 28 Desember 2013

Tahu Separatis..

Dsc02062

Jenis tahu ini banyak menjadi menu utama gorengan di Warung Indonesia (sebutan untuk Restoran Indonesia)  di Korea di samping tempe goreng tentu saja.  Soal harga termasuk mahal walaupun bahannya banyak ditemui di sini, tidak seperti tempe yang dijual ditempat tertentu saja. Per 3 bijinya biasanya  dihargai 2.000 Won, sekira 20rebu Ripis.
Lebih umum dikenal dengan Tahu isi walopun kadang isinya tahu juga. Tapi di kampung sayah jenis tahu ini  biasa disebut tahu berontak, oleh sebab itu tentu saja boleh di sebut sebagai tahu separatis.  Jadi termasuk makanan yang  berbahaya sebab berada di kelas Subversif....halah.